Cerita Inspirasi 2

September 16th, 2010

‘Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia’. Ketika saya mendengar lagu ini, saya selalu ingat kepada salah satu adik kelas saya di SMA. Seorang pemuda yang produktif, senang berkarya, dan pemimpi ulung.

Dalam umurnya yang masih 17 tahun, ia memiliki mimpi untuk menjadi mahasiswa STEI ITB lalu setelah itu ingin melanjutkan kuliah di MIT, salah satu universitas terkemuka di luar negeri. Selain itu, ia juga memiliki mimpi ingin membangun perusahaan multinasional sebelum umur 30 tahun. Subhanallah, betapa tinggi cita-citanya. Saat ini pun, ia sudah banyak menghasilkan buah karya yang luar biasa untuk seukuran anak Sekolah Menengah Atas. Ia sudah menghasilkan beberapa software komputer, website jejaring sosial rancangan sendiri (semacam facebook, twitter, dll), beberapa ebook karangan sendiri (dengan isi yang berbobot dan sarat akan ilmu serta nilai kehidupan), dan juga beberapa blog yang isinya bermanfaat.

Saya sempat membaca sebuah percakapannya dengan temannya yang ia simpan di blognya. Sebuah percakapan yang membuat saya tertegun.

Nas..

Apa?

Ngomong-ngomong cita-cita lw tinggi banget, nggak takut gagal?
Yah, orang kayak gw mah klo ga punya cita-cita kayaknya masuk spensa (salah satu SMP Negeri favorit di kota saya) juga gak bisa.
Kenapa?
Kata guru-guru SD gw, dalam sejarah SD gw baru satu orang yang bisa masuk spensa : gw.
Emang SD lw dimana?
SDN Purbasari 3. Dari semua guru smp yang nanya ke gw tentang asal SD gw cuman dua orang yang tahu SD ini. Sementara di smansa (SMA tempat ia sekolah sekarang) sendiri cuman satu.’
Terus, kalau nanti impian lw gagal?
Yang penting usaha sama doa dulu. Pasti ada pelajaran berharga yang gw dapet. Selain usaha, ya harus rajin-rajin minta pertolongan Allah. kalau Allah mau mah kan gampang, gw masuk Harvard umur 11 tahun juga kalau Allah mau mah pasti bisa.’
Oh gitu.. tapi gimana caranya lw bisa mencapai apa yang lw mau?
Selama kita selalu berusaha berbuat baik, jujur, dan rajin beribadah dan berdoa, pasti Allah nuntun kita. Yap. Gw percaya itu. Gw kalau gak karena pertolongan Allah juga kayaknya gak bisa masuk Smansa. waktu itu NEM gw kecil, dan gw ga ikut tes RSBI. Tapi alhamdulillah, gak lama setelah UN gw udah diterima lewat jalur prestasi.’

Ya, itulah sepenggal percakapan yang membuat saya tertegun. Ia sering membuat saya malu dengan usianya yang masih muda tetapi memiliki pemikiran yang luar biasa dan juga produktif. Ia banyak mengajari saya tentang mimpi. Segalanya memang berawal dari mimpi tapi mimpi membutuhkan sebuah kesungguhan diri kita untuk mencapainya.

Ia hanya berbeda satu tahun dengan saya dan juga angkatan 47 lainnya. Ia sama-sama siswa dari sekolah umum biasa. Ia sama-sama memiliki waktu selama 24 jam. Lalu apa alasan kita tidak bisa produktif juga? Kalau ia bisa artinya kita juga seharusnya bisa! Maka dari itu, mari kita bermimpi lalu kita wujudkan mimpi kita! Karena semuanya berawal dari mimpi…

Cerita Inspirasi 1

September 16th, 2010

Sedekah itu punya arti yang sangat luas. Sedekah, bukan sekedar memberikan receh untuk pengemis tapi lebih dari itu. Pernah dengar kawan? Senyum itu juga ternyata sedekah. Tahukah kawan? Apa pun jenis sedekah itu, percayalah kawan, sedekah memiliki kekuatan dahsyat bagi orang yang ikhlas memberikannya.

Saya dahulu hanya siswi SMA biasa. Bukan termasuk golongan yang teramat pintar. Yah, biasa saja, standar. Saya ingat, dulu saya pernah begitu tidak tahu malu. Dengan kemampuan standar, sifat yang tidak begitu ulet, saya berani bermimpi menjadi mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Memang tidak tahu malu.

Tapi, saat itu saya tidak peduli. Setiap orang berhak untuk bermimpi besar bukan? Walau pada akhirnya, saya menurunkan standar mimpi saya. Akhirnya, mimpi saya adalah menjadi mahasiswi Universitas Indonesia, tidak perlu Fakultas Kedokteran. Namun, itu tetap saja tak semudah kelihatannya.

SMA saya memiliki satu kegiatan yang bernama mentoring. Setiap Jumat, setiap kelas akan didatangi oleh kakak mentor untuk bersama-sama mengkaji Islam. Di tahun ketiga saya di SMA, saya mendapatkan amanah untuk menjadi mentor bagi siswi kelas X. Pada saat itu, dalam benak saya, saya hanya ingin menjadi mentor selama satu semester saja. Semester dua saya ingin konsentrasi belajar. Tapi, karena dorongan kakak kelas saya, saya tidak jadi mengundurkan diri menjadi mentor.

Sungguh, saya tidak pernah menyesal dengan keputusan itu. Bahkan mungkin saya akan menyesal jika saya tidak melanjutkan amanah saya waktu itu.

Menjadi mentor sama dengan sedekah ilmu. Itu yang pernah dikatakan oleh teman saya. Ya, saya coba menerapkan rasa ikhlas dalam mengisi mentoring. Ternyata memang benar, mengisi mentoring tidak pernah mengurangi banyak waktu belajar saya. Walaupun hal itu menuntut saya untuk berpikir lebih. Tapi, ternyata saya malah mendapatkan banyak hal saat menjadi mentor.

Saya menyebut peserta mentoring dengan sebutan mentee. Mentee-mentee saya banyak sekali memberi pelajaran bagi saya. Tidak hanya itu, bahkan dari mereka saya selalu mendapatkan semangat baru. Binar mata ingin tahu mereka selalu mengingatkan saya untuk jangan berhenti mencari ilmu.

Suatu hari, saya mengisi mentoring di hari Jumat. Keesokan harinya, saya harus menghadapi Ujian Masuk Bersama. Saat itu, saya sudah dua kali gagal dalam ujian masuk universitas. Kebetulan hari itu adalah hari terakhir mentoring di kelas X. Saya berniat memberikan mentee-mentee saya sebuah hadiah kenang-kenangan supaya mereka tetap semangat menjalani mentoring di tahun kedua. Di akhir mentoring, saya memberikan hadiah itu sambil memohon doa untuk ujian esok hari. Memohon doa untuk diberikan yang terbaik. Jujur, pada saat itu hati saya sudah mulai takut karena sudah dua kali saya ditolak di dua universitas. Saya masih ingat wajah mereka yang berseri-seri saat diberi hadiah. Kemudian, salah satu dari mereka ada yang berkata, “Ih, teteh! Makasih banyak ya. Semoga balasannya teteh dapet UI!”. Serentak yang lain berteriak, “Aaamiiin!”. Sungguh saya terharu.

Subhanallah, ternyata doa mereka diijabah. Saya lolos di dua ujian masuk universitas. Yang pertama, pengumuman UTM  IPB. Meski tujuan utama saya adalah UI, tapi saya juga memiliki minat ke IPB sehingga saya mengikuti UTM. Alhamdulillah, saya diterima di Ilmu Gizi IPB. Beberapa minggu kemudian, keluarlah pengumuman UMB. Subhanallah, ternyata saya juga lolos di jurusan Sistem Informasi UI. Saya diberi kesempatan memilih. Dan saya memilih tempat yang sinergi dengan cita-cita awal saya. Belakangan saya ketahui bahwa dari S1 Ilmu Gizi bisa melanjutkan ke kedokteran di S2nya.

Sekarang bukan masalah dimana saya kuliah pada akhirnya. Tapi dari segala cerita di atas, saya merasakan bahwa benar adanya sedekah itu memiliki kekuatan yang luar biasa. Saat manusia terkadang takut kehabisan harta atau waktunya, ternyata justru sedekah menambah segala kenikmatan bahkan membantu kita dalam meraih mimpi kita, juga mempermudah urusan kita.

Itulah sekeping cerita kehidupan yang pernah saya alami. Berharap dapat menginspirasi orang lain untuk tak ragu dalam bersedekah. Tentunya bersedekah hanya karena-Nya. Mari bersedekah kawan! Wallahu’alam.

Allah.. Allah.. Allah..

Juli 28th, 2010

Tak tentu jiwaku menetap

Tak tentu semangatku membara

Tak tentu hati ini yakin

Tak tentu niat ini lurus

Tak tentu pikiran ini sejalan

Tak tentu keteguhan itu ada

Itulah manusia

Lemah tak berdaya

Tapi lihatlah

Dia selalu bersamaku

Bahkan lebih dekat dari urat nadiku sendiri

Merengkuhku saat aku mulai terlepas

Selalu….

Rabbi..

Maka nikmatMu yang manakah yang pantas aku dustakan?


IPB

Juli 28th, 2010

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

my first post in this blog :)

DUNIA! AKU CINTA INSTITUT PERTANIAN BOGOR!! 😀